Di balik geliat pesantren modern dan semangat mencetak generasi Qurani, terselip kisah persaudaraan yang dalam antara dua sosok pengabdi Al-Qur’an: Ustaz Zuhaili dan Pondok Pesantren Darul Hikam. Kisah ini bukan hanya tentang silaturahmi biasa, tetapi tentang perjalanan ruhani, komitmen dakwah, dan cinta terhadap kitab suci yang menyatukan visi dua lembaga besar: MZ Quran Center dan Darul Hikam.
Awal Perjumpaan dan Tali Ukhuwah
Ustaz Zuhaili mengisahkan awal kedekatannya dengan almarhum KH. Abu Bakar Abdul Jalil, pendiri Darul Hikam. Bukan hanya sebagai sesama aktivis dakwah, mereka memiliki hubungan seperti ayah dan anak. Seringkali Ustaz Zuhaili menginap di pesantren, makan bersama keluarga besar, bahkan diajak langsung berdiskusi soal manajemen dan arah pendidikan di Darul Hikam.
Rasa cinta dan kagum terhadap KH. Abu Bakar bukan hanya karena karismanya, tetapi juga karena komitmennya terhadap perjuangan Al-Qur’an, bahkan di usia lanjut. Sosok yang Ustaz Zuhaili sebut “berjihad dengan tangan dan lisannya” hingga akhir hayat.
Visi Qurani yang Sama
Sebagai pendiri MZ Quran Center, Ustaz Zuhaili dikenal sebagai sosok yang gigih dalam memperjuangkan Quranisasi, terutama di kalangan anak-anak dan remaja. Visi ini selaras dengan Darul Hikam yang sejak awal dirintis sebagai pesantren penghafal Al-Qur’an (tahfidz) yang kuat dalam karakter, ilmu, dan ruh dakwah.
Maka tidak heran jika kolaborasi dan sinergi antara keduanya sangat cair dan produktif. Bagi Ustaz Zuhaili, Darul Hikam bukan sekadar tempat mampir, tetapi rumah besar bagi perjuangan bersama.
Santri Adalah Tentara Cahaya
Dalam narasi yang menyentuh, Ustaz Zuhaili mengajak para santri untuk menyadari bahwa mereka adalah “tentara cahaya”. Mereka sedang menempuh jalan mulia yang tidak semua orang mampu jalani: menjadi penghafal Al-Qur’an, penjaga wahyu, dan pejuang di tengah badai fitnah dunia.
Ia menegaskan, “Menjadi santri bukan hanya soal menghafal. Ini soal menyiapkan diri sebagai pemimpin, pejuang, dan cahaya di tengah zaman yang gelap oleh kelalaian dan kesesatan.”
Pesan untuk Wali Santri
Kepada para wali santri, Ustaz Zuhaili mengingatkan agar terus membersamai anak-anak mereka dengan doa, kesabaran, dan dukungan ruhani. Jangan hanya berharap anak menjadi hafiz, tetapi juga doakan agar mereka menjadi pejuang Al-Qur’an yang kuat, amanah, dan membawa maslahat untuk umat.
“Jangan titipkan anak ke pesantren hanya karena tidak tahu harus bagaimana, tapi niatkan sebagai bagian dari jihad keluarga untuk Islam,” tegasnya.
Menyambung Perjuangan
Kini, setelah KH. Abu Bakar wafat, perjuangan itu diteruskan oleh keluarga besar dan generasi penerus di Darul Hikam. Ustaz Zuhaili melihat pesantren ini sebagai oase penting dalam membentuk generasi Rabbani—bukan hanya karena bangunannya, tapi karena ruh yang menghidupinya: ruh Al-Qur’an dan cinta kepada ilmu.
Kisah persaudaraan antara Ustaz Zuhaili dan Darul Hikam bukan sekadar nostalgia. Ini adalah potret bagaimana ukhuwah Islamiyah, jika dilandasi cinta kepada Al-Qur’an, bisa melahirkan gerakan besar yang menyinari umat.
Darul Hikam dan MZ Quran Center adalah dua nama berbeda, namun disatukan oleh semangat yang sama: menjadikan Al-Qur’an sebagai pondasi peradaban.

