Dari Ngawi ke Kairo: Jejak Langkah Santri Darul Hikam Menembus Al-Azhar

Rizana Ika Maghfirah, santri lulusan Pondok Pesantren Darul Hikam (DH) Mojokerto, adalah sosok inspiratif yang telah menorehkan jejak emas dalam dunia pendidikan Islam. Lahir di Ngawi pada 3 Desember 2000, putri pertama dari pasangan Muji Mariyo dan Nurul Muzayyanah ini dikenal tekun, mandiri, dan bersemangat dalam menuntut ilmu.

Perjalanan pendidikannya dimulai di Pondok Pesantren Darul Hikam, tempat ia mengenyam pendidikan sejak tahun ajaran 2012/2013 hingga lulus pada angkatan 2017/2018. DH bukan hanya menjadi tempatnya belajar ilmu agama dan akademik, tetapi juga menjadi lahan subur bagi pembentukan karakter dan jiwa tangguh yang ia miliki hingga hari ini.

Setelah lulus dari DH, Firah melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi, menembus gerbang peradaban ilmu di negeri para nabi — Mesir. Ia diterima di Universitas Al-Azhar Asy-Syarif, Kairo, salah satu pusat keilmuan Islam tertua dan paling bergengsi di dunia. Di sana, ia menempuh pendidikan S1 pada Fakultas Ushuluddin, dengan spesialisasi Tafsir dan Ilmu Al-Qur’an. Kecintaannya terhadap ilmu tafsir membawanya melanjutkan studi S2 di universitas yang sama, dengan jurusan dan fokus keilmuan yang konsisten. Saat ini, ia tengah menempuh semester kedua program magister dengan beasiswa dari Bait Zakat Kuwait.

Mengapa Mesir?

Ketika ditanya mengapa memilih Mesir, Firah menjawab bahwa negara ini adalah pusat ilmu Islam klasik dan kontemporer. “Al-Azhar adalah impian banyak penuntut ilmu. Di sana, kita tidak hanya belajar dari dosen, tetapi dari atmosfer ilmu itu sendiri,” ungkapnya.

Proses Meraih Impian

Perjalanan untuk bisa menuntut ilmu di Mesir tentu bukan hal yang mudah. Ia memantau informasi melalui Kementerian Agama, mengikuti proses pendaftaran, lalu menjalani serangkaian tes seleksi. “Kuncinya adalah persiapan. Ketahui negara tujuan, siapkan bahasa, bekal ilmu, kesiapan mental, dan tentu saja, jangan lupakan doa dari guru dan orang tua,” pesan Firah kepada para generasi muda.

Kesan untuk DH dan Pesan untuk Adik Kelas

“Pondok Darul Hikam adalah bagian penting dari perjalanan hidup saya. Dari tempat inilah saya belajar menjadi pribadi yang mandiri dan tangguh,” kenangnya.

Namun dengan rendah hati, ia menolak memberi nasihat kepada lembaga yang telah banyak membentuknya. “Rasanya tidaklah pantas bagi saya yang belum memberikan apa-apa kepada pondok, untuk menyampaikan pesan.”

Kepada adik kelas, ia menitipkan pesan yang mendalam:

“Dunia ini sangat luas. Jangan merasa cukup setelah tamat SMA. Buatlah rencana masa depan, dan yang paling penting, tanamkan sikap sadar dalam diri akan arah hidupmu, terutama kita para perempuan.”

Leave a Comment